Melawat ke Madura, Mendalami Ragam Agama dan Budaya

 Melawat ke Madura, Mendalami Ragam Agama dan Budaya

Pernah mendengar tentang Peace Train Indonesia? Ini adalah sebuah agenda travelling yang berisi semangat menjaga perdamaian antarumat beragama. Serunya, perjalanannya menggunakan kereta api.

Acara ini diikuti berbagai kalangan dari lintas agama dan budaya, berkunjung ke tempat-tempat ibadah yang sebelumnya jarang dikunjungi pemeluk agama yang berbeda. Ini membuat seorang Nasrani tidak akan canggung ketika harus masuk masjid, demikian juga seorang Muslim, yang akan menjadi ramah saat harus berkunjung ke Gereja.

Nama Peace Train ini terinspirasi oleh lagu dari Cat Stevens, yang sekarang telah berganti nama menjadi Yusuf Islam. Musisi yang juga pencipta lagu “Wild World” ini telah memberi inspirasi pada semua orang untuk menyebarkan perdamaian ke seluruh dunia.

Semangat itulah yang menginspirasi para penggagas acara ini untuk memberi nama program ini seperti lagu dari mualaf asal London ini.

Ujaran kebencian dan sekat-sekat primordial nampaknya memang kian menganga dalam beberapa tahun belakangan. Di media sosial misalnya, ranah yang mestinya dapat kita gunakan untuk saling menyapa, berbagi kebaikan, dan mempererat persahabatan, justru jadi sebaliknya.

Orang-orang malah sibuk saling mencaci dan mengumbar rasa benci, yang malah berpotensi merusak kerukunan dan perdamaian.

Oleh karena itu, diadakanlah acara yang digagas oleh ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) ini. ICRP sendiri adalah organisasi nirlaba, non-pemerintah dan independen, yang didedikasikan untuk memajukan dan mempromosikan dialog antaragama, demokrasi, dan perdamaian di Indonesia.

ICRP didirikan oleh para pemimpin agama dari berbagai agama di Indonesia. Upaya ICRP mempromosikan dialog, bertujuan mengembangkan kehidupan beragama yang demokratis, humanistik dan pluralistik.

ICRP secara aktif mengambil bagian dalam mengembangkan studi dalam pembuatan perdamaian dan resolusi konflik, serta memperjuangkan hak asasi manusia dan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Peace Train Indonesia ini mulai berjalan sejak 2017 lalu. Kali ini, mereka sudah mencapai acara kesembilan. Peace Train Indonesia kali ini dihelat sebagai wahana bagi generasi muda atau millenial, sebagai ajang untuk mempererat persahabatan dari berbagai latar agama, suku, dan ras yang berbeda.

Melalui gelaran kali ini, kita berharap anak-anak muda millenial menyadari bahwa mereka harus berada di garis depan dalam menjaga kerukunan—sekaligus bersama-sama mewujudkan perdamaian.

Peace Train Indonesia kali ini diadakan dengan rute Jakarta – Madura, 20-21 Oktober 2019 lalu. Diikuti oleh 33 peserta dari berbagai agama yang berasal dari Jakarta, Surabaya, Pasuruan, dan Madura.

Peace Train Indonesia 9 difasilitasi Ahmad Nurcholish, yang merupakan penggagas program tersebut. Beliau mengatakan, terdapat target penting dan Peace Train Indonesia 9, yaitu kaderisasi masif bagi kelompok pemuda milenial untuk menjadi inisiator sekaligus penggerak toleransi dan perdamaian.

“Selain mengabarkan potret Islam Nusantara yang ramah, moderat, dan damai, kita juga ingin berbagi cerita bagaimana persahabatan anak-anak muda dari berbagai latar agama yang berbeda ini benar-benar ada. Bahkan dari situlah kerukunan dan perdamaian dapat diwujudkan di bumi Indonesia,” ujarnya.

Pada acara kali ini, para peserta PTI akan mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antaragama di Madura.

Dalam acara ini, para peserta yang non-muslim pun juga merasakan tinggal menginap di Pondok Pesantren.

Para peserta memulai perjalanan dari Pasar Turi Surabaya menuju Bangkalan Madura. Di sinilah mereka belajar dan melihat lebih dekat rumah ibadah dan komunitas yang berbeda sebagai kekayaan budaya di Pulo Garam ini.

Tujuannya tak lain untuk saling mengenal dan menjalin persahabatan sebagai bekal dalam merawat kebhinnekaan.

Saya kebetulan ikut dalam rombongan bus menuju Kabupaten Bangkalan. Disambut di Center for Islam and Democracy (CIDE), di mana kita diberi tempat untuk makan siang dan mandi.

Setelah itu, diadakanlah bedah buku dan diskusi yang dilaksanakan di Kantor DPRD Kabupaten Bangkalan. Para peserta pun merasakan bagaimana rasanya duduk di kursi anggota dewan. Acara diskusi dan bedah buku Muslimah Reformis ini diisi oleh Prof. Musdah Mulia, Romo Hariyanto (Sekum ICRP), Pdt. Natanael Sigit Wirastanto (GKI), Dr. Mutmainah, M. Psi (PPT Bangkalan), dan dimoderatori Mundiro Lailatul Muawarah.

Acara dilanjut dengan kunjungan ke Kantor PCNU Kabupaten Bangkalan. Para peserta yang non-muslim pun belajar banyak tentang ke-NU-an. Setelah itu, mereka lanjut berwisata menuju bukit Jaddih. Di sinilah para peserta menikmati pemandangan alam dan menikmati lezatnya rujak khas Madura.

Menjelang Maghrib, para peserta pun pergi ke Makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Ulama ini adalah sosok yang istimewa. Para peserta pun langsung kagum akan makam yang tidak pernah sepi dikunjungi peziarah dari seluruh penjuru tanah air.

Selepas berkunjung dan mencari oleh-oleh di kawasan makam, para peserta pun pergi ke Padepokan Luhur Naga Putih Joko Tole. Dalam acara ini, peserta menonton seni pencak silat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan juga tari khas Madura.

Karapan Sapi khas Madura adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi pulau ini. Pada siang yang terik ini, peserta PTI menonton secara langsung dari dekat kebudayaan khas Orang Madura ini.

Menjelang sore, para peserta pun kembali menuju pondok, mempersiapkan diri untuk pulang ke tempatnya masing-masing. Acara ini memang terasa sangat sebentar untuk para peserta. Meski begitu, acara ini memberi kesan yang sangat baik. Mereka menjadi kenal satu sama lain dan mengenal tempat-tempat baru.

Tingginya intoleransi dan kekerasan atas nama agama belakangan ini, seperti yang banyak diberitakan oleh media, memang sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Penyebaran kebencian dan provokasi berbasis SARA dan sektarianisme telah begitu mewabah dan dengan mudah dimanfaatkan para elit politik sebagai komoditas.

Meski begitu, agenda Peace Train Indonesia ini memberi semangat bahwa masih ada cinta kedamaian di Bumi Pertiwi ini.

Mengenal budaya baru sendiri akan membuat kita mengerti dan bisa menyimpulkan keadaan. Acara seperti ini akan memberikan banyak pelajaran baru untuk menjaga semangat toleransi di Indonesia.

Semoga Indonesia akan baik-baik saja, selamanya.

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *