Mencari Rumah Masa Kecil Bung Karno di Lawang Seketeng

 Mencari Rumah Masa Kecil Bung Karno di Lawang Seketeng

Notice: Undefined offset: 3 in /srv/users/dancokon/apps/dnk/public/wp-content/plugins/tiled-gallery-carousel-without-jetpack/tiled-gallery.php on line 554

Notice: Trying to get property 'ratio' of non-object in /srv/users/dancokon/apps/dnk/public/wp-content/plugins/tiled-gallery-carousel-without-jetpack/tiled-gallery.php on line 554

Notice: Undefined offset: 3 in /srv/users/dancokon/apps/dnk/public/wp-content/plugins/tiled-gallery-carousel-without-jetpack/tiled-gallery.php on line 563

Notice: Trying to get property 'ratio' of non-object in /srv/users/dancokon/apps/dnk/public/wp-content/plugins/tiled-gallery-carousel-without-jetpack/tiled-gallery.php on line 563

Pak Zaki (51 tahun), dari kejauhan tampak seperti pemain srimulat legendaris Surabaya yang jadi pembawa acara Blakra’an JTV sebelum Cak Nanang—saya lupa namanya. Dengan cambang mengambang dan rambut yang mulai jarang, ia begitu berapi-api saat menjelaskan rumah bobrok-hancur-lebur-kiri-kanan di depannya; hampir rata dengan tanah andaikata dibiarkan.

“Rumah ini (memang) sengaja dibiarkan tampak hancur luar dalam karena dimakan usia, demi menjaga keaslian sejarah,” ujarnya menggebu. Saya tampak ragu untuk mendekati rumah itu. Tapi dorongan ibu-ibu tetangga Pak Zaki membuat saya nekat menerobos masuk.

“Ini rumahnya keluarganya Pak Zaki, Mas. Dari dulu memang dibiarkan begini. Rumah ini punya sejarahnya sendiri,” ujarnya.

Rumah puing adalah rumah puing, begitu pikir saya. Tapi Pak Zaki lantas menjelaskan hal yang membuka selubung rahasia baru. Membuat saya menahan kretek yang lekas akan saya hembus.

“Saya ini cucunya perobek bendera biru di Hotel Yamato, Pak Besari. Sekarang jadi pemilik rumah puing tinggalan beliau di Gg. V ini,” ujarnya.

Senin (11/11) lalu, saya kebetulan memang sedang berada di daerah Lawang Seketeng. Jika ini terlalu antah-berantah bagi kalian, ambil patokan dari Tugu Pahlawan. Dari gerbang Tugu, lurus sedikit dan berbeloklah ke kanan.

Sejarah hadir di jalan sempit itu—yang kemudian akan menggiringmu masuk ke gang-gang kecil yang dianggap berjasa bagi perkembangbiakan republik.

Di sana, semuanya mungkin sudah tahu Peneleh, jalan bersejarah yang di dalamnya ada rumah kelahiran Bung Karno. Atau Pandean, di mana Sukarno kecil pernah bermukim di sana. Tapi sebelum itu, ada Kampung Lawang Seketeng, yang juga menawarkan paket wisata Bung Karno.

Bedanya, rumah Bung Karno dalam gang ini belum dilegitimasi pemerintah kota. Narasumber yang saya temui menyatakan dengan sedikit berbisik-bisik, bahwa rumah di depan Rumah Puing milik Perobek Bendera Biru di Hotel Yamato tadi sempat jadi rumah masa kecil Bung Karno.

“Tapi biarkan, jangan dikoar-koarkan,” ujarnya. “Rumah ini konon sempat jadi rumah Bung Karno dan Gombloh, musisi legendaris Surabaya. Tapi ini adalah versi yang belum diresmikan. Sementara Rumah Bung Karno yang sudah diresmikan ada di Pandean. Sekarang, rumah ini jadi kepunyaan S.A. Assegaf, warga turunan Arab yang bermukim di Jakarta,” tambahnya.

Hari ini (11/11) memang spesial. Lawang Seketeng tak seramai biasanya. Di siang lengang yang anjing biadab panasnya ini, saya tak berkunjung sendiri. Berbagai rekan media juga berdatangan. Di depan, dinas-dinas terkait dari Pemkot Surabaya juga tampak mengerubung.

Ini adalah peresmian Kampung Lawang Seketeng sebagai Kampung Heritage; membuatnya harus diperhatikan lebih dalam, dikunjungi lebih sering, demi menjaga ingatan sejarah yang mulai pudar. Lawang Seketeng sekarang punya martabat yang sama seperti Pandean dan Peneleh.

Tak hanya Pak Zaki dan Rumah Puingnya, beberapa sudut dalam kampung ini—kamu lebih baik masuk lewat Gg. V—punya warisan sejak zaman kakek buyutmu yang belum tergusur. Ada pula sebuah sumur tua dalam sebuah rumah jengki milik warga bernama Bu Eluk.

“Sumur tua sudah dibangun di zaman Jepang. Terletak di dalam rumah yang dulunya ditinggali nenek buyut saya. Dulu airnya jernih dan bisa diminum. Perkara kualitas air, (sekarang) mungkin bisa dicek lebih jauh di BPOM,” ujar Bu Eluk setelah mempersilakan saya masuk mengunjungi sumur bersejarah—yang sekarang entah masih difungsikan sebagai tempat kora-kora atau mandi.

Masuk lebih jauh ke dalam, kita akan menemukan lagi banyak artefak era lawas yang membuat waktu seakan berhenti. Saat masuk ke area Gang VI, ada sebuah langgar kayu kuno bernama Langgar Dukur Kayu.

Menurut keterangan Ratu Fitri dari Surabaya Creative Network—yang berkolaborasi dengan Bappeko, mengadakan acara ini—Langgar Dukur Kayu sudah berdiri sejak 1893. Detail keasliannya masih terjaga, terutama pada kayu sisik, daun pintu berengsel kuno, kentongan, dan lain sebagainya.

“Di dalam juga ada barang peninggalan berupa Al-Quran bersampul kulit yang ditulis dengan tangan. Ada tanda air Kerajaan Belanda,” ujarnya. “Kampung Lawang Seketeng yang sudah diresmikan ini juga tak henti mendapat suntikan revitalisasi.”

Saya pun lalu berkeliling lagi mencari warisan abadi lain dari Lawang Seketeng. Termasuk Makam Mbah Sumo, yang menurut salah satu penduduk yang tinggal berdempetan dengan makam, adalah turunan Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Makam ini kecil saja. Hampir tak terlihat jika kamu malu bertanya. Berada tersembunyi di balik pagar hijau, yang terletak di belakang Langgar Dukur Kayu.

Sementara tak jauh dari situ, juga ada makam Syech Zen Zaini Assegaf. Berada di dalam rumah, yang karena saya memakai sepatu dengan tali yang rumit—dan sebenarnya males nyopot, tak jadi saya masuki. Tapi konon di dalamnya ada lumpang batu besar dan beberapa batu fossil—bisa menyala kalau diberi lampu.

Saya rasa hanya itu yang dapat saya rekam dari area Lawang Seketeng. Sisanya hanya sibuk makan-makan dan reuni dengan para wartawan—teman lama saya dulu saat masih sering turun lapangan.

Sementara, matahari rasa-rasanya hanya berjarak beberapa depa, dan sore belum menunjukkan tanda-tanda nampak. Saya memutuskan kembali pulang dengan membawa banyak ingatan yang bisa saya ceritakan kelak, ke anak cucu, atau paling tidak, ke kalian semua.

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *