Nyanyian Akar Rumput dan Usaha Menghidupkan Wiji Thukul

 Nyanyian Akar Rumput dan Usaha Menghidupkan Wiji Thukul

Nyanyian Akar Rumput, film dokumenter besutan sutradara Yuda Kurniawan yang tayang serentak 16 Januari lalu, mencoba merawat ingatan kita semua akan sosok Wiji Thukul, penyair yang hilang di era senjakala Orba dan belum ditemukan.

Film ini menceritakan Fajar Merah, putra Thukul, dan bandnya, yang menyanyikan puisi-puisi dari Thukul dalam grup bernama Merah Bercerita. Band bergenre poem rock ini dibentuk sejak 2010 dan lalu.

Fajar, mencoba menghidupkan kembali puisi-puisi ayahnya, membalutnya ke dalam alunan nada dan merekamnya dalam sebuah album.

Film ini berhasil memenangkan Piala Citra Kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2018, NETPAC Award dari Jogja Netpac Asian Film Festival 2018, Piala MAYA 2019 Kategori Dokumenter Panjang Terpilih, sampai Honorable Metion Award di Festival Film Figuera Da Foz International Film 2019, Portugal.

Nyanyian Akar Rumput yang berdurasi 112 menit, merekam kisah hilangnya Wiji Thukul dari sudut pandang keluarga. Bagi keluarga Thukul, ini tidak hanya persoalan melanjutkan hidup, tetapi bagaimana terus mempertahankan semangat perjuangan yang menjadi satu-satunya peninggalan Thukul yang paling berharga.

Fajar yang masih berusia lima tahun ketika bapaknya dihilangkan, lantas merawat ingatan akan sosok bapaknya lewat musik. Puisi-puisi karya Thukul dinyanyikan. Salah satu yang menjadi lagu wajib sejumlah penampilan di panggung-panggung adalah puisi “Bunga dan Tembok.” Selebihnya, ada pula “Kebenaran akaan Terus Hidup”, “Apa Guna”, dan “Derita Sudah Naik Seleher.”

Tak terhitung sudah berapa banyak panggung yang digebrak Fajar Merah untuk mendendangkan puisi-puisi ayahnya. Saya rasa, di setiap acara, dia melantunkan lagu-lagunya dengan penuh kegembiraan sekaligus kesedihan.

Kegembiraan itu jelas karena dirinya bersyukur masih bisa secara leluasa berkesempatan menjumpa penonton dan pendengar dari berbagai kalangan untuk berbagi sebuah karya, sekaligus menebar sepenggal optimisme dari nasib penuntasan pelanggaran kemanusiaan.

Tentu kesedihan yang masih tersisa dipicu sikap pemerintah yang tidak serius menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Alih-alih menyeret nama-nama yang terlibat dalam kejahatan HAM ke meja pengadilan, pemerintah malah menyediakan karpet merah bagi mereka untuk duduk di kursi penting kekuasaan.

Sebagaimana yang sudah-sudah, dalam dua kali kesempatan riuh pilpres yang dilalui, Presiden Joko Widodo berjanji akan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, termasuk kasus penghilangan Wiji Thukul. Namun, janji hanya sekadar janji!

Kalkulasi politik dengan tidak menyertakan agenda peradilan bagi penjahat kemanusiaan di dalam birokrasi pemerintahan Joko Widodo nampaknya memang masuk akal. Penuntasan HAM sama saja menjadi momok bagi kekuasaanya. Padahal, harusnya ia memihak kebenaran!

Kita tahu semua Wiji Thukul merupakan seniman yang dihilangkan oleh Orde Baru. Sampai sekarang kita tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang ini. Dalam film ini, Fajar menyampaikan bahwasannya sampai saat ini, ia masih menunggu negara untuk bisa menyelesaikan kasus HAM.

Nyaniyan Akar Rumput meman mengambil judul dari salah satu puisi Wiji Thukul yang ia buat di tahun 1988.  Disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei ’98, film ini turut mengingatkan kembali sejarah kelam bangsa Indonesia.

Bagaimana perjuangan korban dan penyintas yang pasang badan demi kelahiran demokrasi di negeri sendiri, tetapi negara justru abai terhadap nasib mereka.

Ya sudah. Sama-sama paham sendiri kan?

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *