Seniman Keturunan Belanda-Jawa Kelahiran Surabaya 1943 Ini Masih Cinta pada Tempat Lahirnya

 Seniman Keturunan Belanda-Jawa Kelahiran Surabaya 1943 Ini Masih Cinta pada Tempat Lahirnya

“Wieteke van Dort” seniman keturunan Jawa-Belanda kelahiran Surabaya.

Di Surabaya,  pada 16 Mei 1943 pernah lahir seniman berbakat keturunan Jawa-Belanda. Nama aslinya Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort. Nama panggungnya Tante Lien. Namun banyak juga yang mengenal dengan nama Wieteke van Dort. Kehidupannya pernah ditulis dalam buku berjudul “Wieteke van Dort: Kind van Twee Culturen; Een familiekroniek” oleh wartawan Belanda, Hans Visser.

Sayangnya, orang Indonesia tidak banyak yang tahu hal ini. Untungnya, pada 2 November 2018 lalu, Departemen Sejarah Universitas Gaah Mada (UGM) Yogyakarta, mengundang Hans Visser untuk menceritakan kehidupan “Wieteke van Dort” seniman keturunan Jawa-Belanda kelahiran Surabaya tersebut.

Menurut Hans, hal yang menarik dari Wieteke adalah asal-usul dua kebudayaan yang telah memengaruhinya, yakni Jawa dan Belanda. Semua itu terjadi karena Wieteke memang seorang Indo yang lahir di Surabaya pada 16 Mei 1943. Wieteke adalah putri dari seorang ayah berdarah Belanda dan ibu yang asli orang Jawa. Sayang, ketika ia sedang mengunjungi Belanda pada usia 18 tahun, keluarganya memutuskan untuk menetap di Den Haag karena saat itu Indonesia sedang bergejolak meraih kemerdekaan.

Meski demikian, pengaruh darah dan lingkungan masa kecil Wieteke tidak hilang. Sebagai seorang seniman, ia banyak memasukkan unsur-unsur indies dalam keseniannya. Hal ini terlihat salah satunya terlihat dari aktingnya sebagai Tante Lien dalam serial film di tahun 1970-an hingga 1980-an akhir yang sangat bernuansa Indies, The Late Late Lien Show. Tidak lupa, juga dalam lagu yang sangat populer, Hallo Bandoeng dan Geef Mij Maar Nasi Goreng.

Banyak tanggapan yang muncul atas cerita Hans. Salah satunya datang dari Ibu Ita Fatia Nadia. Dengan membandingkan dengan buku-buku lain tentang orang Indo, seperti memoar yang ditulis oleh Ruth Havelaar, Anna-Ruth Wertheim, dan Elien Utrecht, Ibu Ita menganggap buku tentang Wieteke ini menarik untuk bisa melihat pandangan orang Indo yang berkecimpung dalam bidang kesenian. Ia sangat berharap buku tersebut bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kata Hans, “daripada menerjemahkan, lebih baik dilakukan penulisan kembali dengan bahasa Indonesia.”

Selain tanggapan, ada pertanyaan yang cukup personal dari Mutiara, mahasiswa manajemen FEB, UGM. “Apakah Tante Lien sering melakukan pertunjukan atau konser di Indonesia?” Jawaban Hans, “Iya, tentu saja ia akan sangat bangga jika ada stasiun TV yang mengundangnya.”

Jawaban tersebut ditanggapi oleh peserta lain, “Sesungguhnya Tante Lien melakukan tur setiap tahun di Indonesia. Masalahnya adalah publikasi dari acaranya kurang gencar.”

Menceritakan perjalanan hidup seseorang memang menyenangkan. Semua orang memiliki keunikan sendiri-sendiri, dan sejarah memang bertugas menceritakan keunikan dan kerincian peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

Ini salah satu lagu yang menunjukkan kecintaannya pada Surabaya:

 

Ini salah satu teater yang menampilkan lagu Indonesia:

Artikel terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *